Sunday, 25 December 2011

♥"As Long As You Love Me"♥


As long as you love me

Although loneliness has always been a friend of mine
I'm leavin' my life in your hands
People say I'm crazy and that I am blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can't get you out of my head
Don't care what is written in your history
As long as you're here with me

I don't care who you are
Where you're from
What you did
As long as you love me
Who you are
Where you're from
Don't care what you did
As long as you love me

Every little thing that you have said and done
Feels like it's deep within me
Doesn't really matter if you're on the run
It seems like we're meant to be

I don't care who you are (who you are)
Where you're from (where you're from)
What you did
As long as you love me (I don't know)
Who you are (who you are)
Where you're from (where you're from)
Don't care what you did
As long as you love me (yeah)

I've tried to hide it so that no one knows
But I guess it shows
When you look into my eyes
What you did and where you're comin from
I don't care, as long as you love me, baby

I don't care who you are (who you are)
Where you're from (where you're from)
What you did
As long as you love me (as long as you love me)
Who you are (who you are)
Where you're from (where you're from)
Don't care what you did (yeah)
As long as you love me (as long as you love me)
Who you are (who you are)
Where you're from
What you did
As long as you love me
Who you are (who you are)
Where you're from (where you're from)
As long as you love me
Who you are
As long as you love me
What you did (I don't care)
As long as you love me 



Saturday, 24 December 2011

5-6 january 2012!!

Ya Allah..
Permudahkanlah segala urusan Qu..
Moga aQu dpt hdapinya dgn sbaik mgkin..
InsyaAllah~
5-6 january 2012...
ary yg aisyah sgt risaw n takut tuk hdapinya..
huhu~

KHAS watmu Insan Yg BerGeLar ADAM..♥♥♥♥♥

Assalamu ' alaikum warahmatullahi wabarakatuh....!


^^ WAHAI ADAM SADARLAH .... ! ^^

>> Surat Terbuka Dari Hawa <<


Adam....!
Maafkanlah aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu.


Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi tidak heranlah jika perjalanan hidupku senantiasa inginkan bimbingan darimu, senantiasa mau terlepas dari landasan.


Adam....!
Maha Suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih banyak jumlahnya dari kaumu di akhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusan-Nya.


Jika bilangan kaummu melebihi kaumku niscaya merahlah dunia karena darah manusia, kacau balaulah suasana, antara sesama Adam bermusuhan merebutkan Hawa.


Bukti cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil hingga pada zaman cucu cicitnya. Jika jumlah Hawa lebih sedikit maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristri lebih dari satu tapi tidak lebih dari empat pada satu waktu.


Adam....!
Bukan karena banyaknya istrimu yang membimbangkan aku, bukan karena sedikitnya jumlahmu yang merisaukan aku. Tapi.... aku risau, gundah gulana menyaksikan tingkahmu.


Aku sejak dulu sudah tahu bahwa aku mesti tunduk ketika menjadi istrimu. Namun.... terasa berat pula untukku menyatakan isi hati yang sebenarnya.


Adam....!
Aku tahu bahwa dalam Al-Qur'an ada ayat yang menyatakan kaum lelaki lebih kuat dari pada kaum wanita. 


Kau diberi amanah untuk mendidikku, kau diberi tanggung jawab untuk menjagaku, memperhatikan dan mengawasiku agar senantiasa di dalam ridha Tuhanku dan Tuhanmu.


Tapi Adam, kenyataan yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah banyak mendurhakaimu. Banyak yang telah menyimpang dari jalan yang di tetapkan.


Pada prinsipnya Allah menghendaki aku tinggal di rumah. Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di pabrik-pabrik dan di keramaian kota bukanlah tempatku.


Jika terpaksa aku keluar dari rumah seluruh tubuhku (aurat) mesti di tutup dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tapi.... realitanya kini, Hawa telah lebih dari seharusnya.


Adam....!
Mengapa kau biarkan aku begini ? Aku jadi Ibu, aku jadi Guru, itu sudah tentu katamu. Aku Ibu dan Guru bagi anak-anakmu. 


Tapi sekarang di waktu yang sama, aku tampil memimpin perusahaan, memimpin rakyat, mengurus negara, aku ke hutan memikul parang dan cangkul. Sementara kau duduk saja.


Ada di antaramu yang menganggur tiada kerja. Kau perhatikan saja aku panjat tangga pada dinas pemadam kebakaran, kainku tinggi menyingsing paha mengamankan negara.


Apakah kau sekarang tidak lagi seperti dulu ? 
Apakah sudah hilang kasih suci terhadapku ?


Adam....!
Marahkah kau jika ku katakan andainya Hawa melenceng, maka Adam yang bertanggung jawab ! Kenapa ?
Mengapa Adam ?


Ya ! Banyak orang berkata jika si anak jahat Ibu-Bapaknya tak bisa mendidik, jika murid bodoh guru yang tidak ahli mengajar !


Adam....!
Kau selalu berkata, Hawa memang ngeyel, tak mau mendengar kata, tak mudah menerima nasehat, kepala batu, menurutku yang lemah ini :


Adam....!
Seharusnya kau tanya dirimu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti dididkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa'salam terhadap istri-istrinya ?


Adakah Adam melayani Hawa sama sebagaimana Nabi Muhammad terhadap mereka ? Adakah akhlak Adam-Adam bisa di jadikan contoh bagi kaum Hawa ?


Adam....!
Kau sebenarnya imam dan aku makmummu, aku adalah pengikut-pengikut karena kau adalah ketua. Jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku.


Kau punya kelebihan akal manakala aku kelebihan nafsu. Akal sembilan, nafsumu satu. Aku.... akalku satu nafsuku seribu !


Dari itu Adam....
Pimpinlah tanganku, karena aku sering lupa dan lalai, sering aku tergelincir di ombang-ambing oleh hawa nafsu.


Bimbinglah daku untuk menyelami kalimah Allah, perdengarkanlah daku kalimah syahdu dari Tuhanmu agar menerangi hidupku.


Tiupkanlah ruh jihad ke dalam dadaku agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah.


Adam....!
Andainya aku masih lalai karena tingkahmu sendiri, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah :


Dunia ini akan hancur bila kaum Hawa yang menjadi pemimpin. Malulah engkau Adam, malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhanmu yang engkau Agungkan itu....


Copy frOm Frenz FB.. (^_^).. perkOngsian ILMU ..

Friday, 5 August 2011

Kejujuran Jalan Menuju Syurga

Jujur adalah perkataannya sesuai dengan perbuatannya. Kejujuran merupakan keutamaan jiwa, akhlak yang akan membawa pada dampak yang sangat penting dalam kehidupan individu dan bermasyarakat. Jujur adalah hiasan perkataan, tanda keistiqomahan dan kebenaran, dan menjadi penyebab bagi kesuksesan dan keberhasilan. Oleh karena itu Islam sangat memuji sifat tersebut serta sangat menganjurkan untuk berbuat jujur, itu didapati dalam Quran dan Sunnah, dan ini hanya dapat dijalankan oleh orang yang berpegang teguh pada agamanya.

Allah berfirman : ( Al Ahzab 23).
Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya kejujuran akan membawa pelakunya pada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan pelakunya kedalam surga, dan seorang akan berbuat jujur hingga Allah menuliskan disisi-Nya termasuk golongan orang-orang yang jujur, dan dusta akan membawa pada kemungkaran dan kemungkaran akan membawa pelakunya pada neraka, dan seseorang akan berdusta hingga Allah menuliskan disisi-Nya termasuk golongan orang-orang pendusta.

Allah telah memuji para utusan-Nya atas kejujuran mereka : (Maryam 65).
Ibnu Abbas berkata : empat perkara bila dimiliki oleh seseorang maka dia telah beruntung : jujur, malu, budi pekerti baik, dan bersyukur.
Bayar bin al Harits berkata : barang siapa yang beribadah pada Allah dengan jujur maka dia akan disegani oleh manusia.
Abu Sulaiman berkata : jadikanlah jujur jalan hidupmu, kebenaran pedangmu dan Allah tujuanmu.

Orang bijak ditanya : saya tidak melihat orang jujur. Dia menjawab : jika anda termasuk orang-orang jujur maka anda akan melihatnya.
Ada orang yang berkata pada Dzin Nun : apakah ada jalan bagi seorang hamba untuk membenahi segala permasalahannya ?
Dia menjawab :
Kita mencari kejujuran karena tidak ada jalan menujunya
Kita telah lama terbenam dalam dosa hingga membuat kita tersesat jalan.

Hakikat kejujuran dan tingkatannya :

Kejujuran dipakai dalam enam erti yang sangat mulia : jujur dalam perkataan, niat, jujur dalam kemauan, jujur dalam menepati kemauan, jujur dalam perbuatan, dan jujur untuk mencapai kedudukan dalam agama secara keseluruhan, barang siapa mempunyai sifat jujur dalam semua hal diatas maka dia tergolong orang yang jujur.

Jujur pertama : jujur dalam perkataan, yaitu menyampaikan sesuatu sesuai dengan hakikatnya tanpa adanya pemalsuan, kenyataan itu entah yang berlalu atau yang akan datang dan bagi setiap muslim hendaknya menjaga perkataannya dan selalu berkata jujur.
Inilah tip kejujuran yang sangat terkenal, maka barang siapa yang menjaga ucapanya dalam penyampaian berita tentang segala sesuatu apa adanya maka dia adalah orang yang jujur.

Jujur kedua : jujur dalam niat, itu kembali pada keikhlasan, yaitu hendaknya tidak ada unsure lain dalam kegiatan dan diamnya kecuali hanya karena Allah, bila ada campuran kepentingan pribadi maka pupuslah kemurnian niat itu, dan pelakunya dapat dikatakan pendusta.

Jujur ketiga : jujur dalam kemauan, kadang seseorang sebelum melakukan perbuatan dia mempunyai kemauan untuk berbuat, dia berkata pada dirinya : bila Allah memberikan rizki harta padaku aku akan mensedekahkannya – atau setengahnya- atau aku akan berjuang dijalan Allah berjihad dan aku tidak peduli walaupun aku mati dimedan jihad, bila Allah memberikan aku kekuasaan maka aku akan berlaku adil dan tidak akan sedikitpun mendzalimi rakyatku, kemauan ini kadang diikuti perasaan dalam dirinya dengan kemauan yang jujur, kadang pula diikuti oleh kemauan yang setengah setengah, dalam hal ini yang dimaksud adalah kekuatan jiwa dan penepatan kemauan diatas.

Jujur keempat : jujur dalam menepati kemauan, kadang jiwa itu dipenuhi oleh kemauan untuk menepati bila tidak ada rintangan dan kesusahan tapi bila syahwat telah menguasai jiwa maka kemauan tadi menjadi lemah dan syahwatlah yang menjadi penguasa, hingga dia tidak menepati kemauannya tadi, maka ini telah berlawanan dengan kejujuran, oleh karena itu Allah berfirmah : Al Ahzab 23.
Dari Anas RA : bahwa Anas bin An Nadhr belum pernah mengikuti perang Badr bersama Rasulullah Saw maka hatinya menjadi susah, dia berkata : bila pada waktu perang aku pertama kali yang diikuti Rasulullah aku tidak dapat datang mengikuti, bila Allah mengizinkan aku berperang bersama Rasulullah Saw maka aku akan memperlihatkan pada Allah apa yang akan aku perbuat : dia berkata : pada tahun berikutnya dia ikut dalam perang Uhud kemudian dia bertemu dengan Saad bin Muadz, dia berkata : Wahai Abu Amr mau kemana ? dia menjawab : betapa indahnya wangi surga ! Sungguh aku mendapatkan wangi surga setelah perang Uhud, maka dia berperang sampai dia terbunuh, dan didapati pada seluruh jasadnya delapan puluh lebih tusukan pedang, panah dan pukulan, saudarinya berkata : aku tidak mengenal saudaraku kecuali dari bajunya, maka turunlah ayat.

Jujur kelima : jujur dalam perbuatan, yaitu hendaknya berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa perbuatan dzahirnya mensifati batinnya, tapi sebaliknya hendaknya batinnya yang menuntun lahirnya, banyak didapat orang yang berdiri dzahirnya seakan khusu’ tapi itu hanya ingin dilihat oleh orang lain, tapi hatinya lupa akan shalatnya, bila orang lain melihatnya maka seakan dia berdiri dihadapan Allah, padahal batinya dipasar berjalan bersama syahwatnya.

Jujur keenam : yaitu jujur yang menduduki tingkatan tertinggi, yaitu jujur dalam kedudukan (maqam) keagamaan, jujur dalam khauf (takut), raja’(pengharapan) dan ta’dzim (penghormatan), zuhd, ridha, tawakkal dan hubb (cinta). Bila salah satu maqam telah dikuasai dan hakikatnya menjadi nyata maka dia termasuk orang yang jujur dalam maqam tersebut. Tingkatan jujur itu tidak ada batasnya, kadang seorang hamba jujur dalam satu perkara tidak jujur dalam perkara lainnya, maka barang siapa yang jujur dalam segala hal maka dialah orang jujur yang hak.

Saad bin Muadz berkata : tiga perkara yang membuat saya kuat dan orang lainnya menjadi lemah : saya tidak pernah shalat semenjak saya masuk Islam saya bercakap dengan jiwa saya kecuali setelah saya selesai shalat, dan aku berta’ziyah jenazah tanpa riya’ dan tidak berbicara tentang itu sampai selesai penguburannya. Dan saya tidak pernah mendengar Rasulullah berkata kecuali yang hak (benar), Ibnu Musayyab berkata : beruntunglah Saad bin Muadz saya tidak menyangka sifat-sifat baik itu hanya ada pada Nabi Saw.